Layang-layang Berwarna-warni Namun tak bebas terbang Terus menerus dikendalikan Ditarik Diulur Tarik-ulur Begitu seterusnya Terkadang ia dipaksa bertarung Dengan layang-layang lainnya Siapa yang paling indah Siapa yang paling kuat Tak jarang tali yang menyatukan, terlepas Ia mengikuti tiupan angin, entah dimana akan berlabuh Apakah di atas genting yang kotor Apakah di atas pohon yang rapuh Jika sudah tak diinginkan Ia pun ditinggal sendirian Menanti seorang yang lain Yang dapat membetulkan sisi tubuhnya yang terkoyak Jika masih di inginkan Ia akan terus dikejar Terus diraih hingga dapat Setelah itu dimainkan kembali Jika sudah bosan Ia akan ditaruh disudut gelap Tak dirawat Tak dijaga
Kahlil Gibran : "Kukepakkan sayap - sayap patahku Mengikuti hembusan angin yang berlalu Menancapkan rindu Di sudut hati yang beku Dia retak, hancur bagai serpihan cermin Berserakan"
Aku : Kau terbang ke arahku Memilihku untuk melintasi langit bersama
Kukepakkan sayap indahku
KIta perlihatkan kuatnya
Namun, aku tak sadar Dalam riangnya, ada satu kesalahanku Yang tak dapat memahami Apa yang kau rasa Apa yang kau ingin
Hingga kau lebih memilih
Mengikuti hembusan angin yang tenang
Aku sendiri
Aku sendirian
Menerjang hembusan angin kencang
Sayapku patah Tak lagi sanggup terbang Terjatuh Tersungkur Mengapa kau hanya menatapku saja ?
Sepertinya aku hanya terduduk di sebuah sudut Sudut yang paling tak terlihat di kelopak matamu Sudut yang kadang terang kadang padam Sudut yang menunggumu tanpa romansa
Masih menjadi yang paling mengerti Masih menjadi tempat bertukar cerita Masih menjadi tempat melempar canda Masih saling bersilahturahmi Mereka.. Bukan hanya sebatas penjual kenangan