Rabu, 24 April 2013
Koklea
Ini anatomi telinga
Kita akan fokus pada koklea-nya
Di dalam koklea itu ada rambut yang berfungsi untuk mereduksi suara yang masuk.
Rambut koklea itu ibarat rumput, jika ada suara yang masuk, rambut yang tegak berdiri itu akan merunduk, lalu akan tegak berdiri kembali.
Bahayanya jika rambut tersebut terlalu sering terpapar suara yang keras terus menerus, rambut di koklea itu akan terus merunduk dan terlepas perlahan hingga tak bersisa, sehingga akan berbahaya bagi kesehatan yaitu menimbulkan penyakit, seperti penyakit noise-induced hearing loss dan tinnitus, sebab suara keras itu langsung masuk tanpa ada filter.
Seperti halnya aku menghadapimu, jika perilaku burukmu terus menerus menguji kesabaranku, kesabaranku pun akan terlepas perlahan, menyerah .
Sebab aku tak mau menghabiskan hidupku hanya berotasi pada hal yang membuatku sakit .
Senin, 08 April 2013
Sebuah pohon
Seorang anak bertanya pada ibunya mengapa pohon di kebun tetangga itu ditebang, padahal pohon itu baru akan tumbuh beberapa tumbuh bakal buah. Kata ibunya pohon tersebut tumbuh dengan akar yang tidak kuat, "Menanam suatu bibit pohon, harus tahu karakter bibit tersebut, ada tanaman yang harus ditanam dengan agak mendalam, ada juga yang medium, jangan menggali terlalu dalam, belum tentu akar bibitnya kuat"
Anaknya paham, dulu memang ibunya pernah menyuruhnya untuk mengetahui bibit, musim yang
tepat untuk menanamnya, tak hanya itu pohon yang baru tumbuh harus dijaga dari tangan-tangan jahil, jangan lelah juga untuk menyiraminya, memetik yang layu serta mencabuti rumput-rumput liar yang menganggu pertumbuhannya.
Anak itu duduk di sebuah ayunan buatan ayahnya sambil memandang ke atas, yaa ada berjuta dedaunan menaungi dirinya, inilah pohon mangga yang ibu dan ayahnya tanam sejak ia belum ada didunia ini, pohon itu sedang muncul beberapa bunga-bunga bakal buah yang indah, lalu pandangan anak itu beralih pada sepetak tanah yang sebulan lalu baru ia tanami bunga mawar putih, ia sudah mengikuti tahap-tahap yang ibunya sarankan dan kini muncul tunas kecil dari sepetak tanah tersebut, anak itu pun tersenyum.
Semacam pembelajaran dalam menggemburkan rasa, mulai menanam cinta dan tumbuh bersama dengan keindahan abadi.
Anaknya paham, dulu memang ibunya pernah menyuruhnya untuk mengetahui bibit, musim yang
tepat untuk menanamnya, tak hanya itu pohon yang baru tumbuh harus dijaga dari tangan-tangan jahil, jangan lelah juga untuk menyiraminya, memetik yang layu serta mencabuti rumput-rumput liar yang menganggu pertumbuhannya.
Anak itu duduk di sebuah ayunan buatan ayahnya sambil memandang ke atas, yaa ada berjuta dedaunan menaungi dirinya, inilah pohon mangga yang ibu dan ayahnya tanam sejak ia belum ada didunia ini, pohon itu sedang muncul beberapa bunga-bunga bakal buah yang indah, lalu pandangan anak itu beralih pada sepetak tanah yang sebulan lalu baru ia tanami bunga mawar putih, ia sudah mengikuti tahap-tahap yang ibunya sarankan dan kini muncul tunas kecil dari sepetak tanah tersebut, anak itu pun tersenyum.
Semacam pembelajaran dalam menggemburkan rasa, mulai menanam cinta dan tumbuh bersama dengan keindahan abadi.
Kamis, 28 Maret 2013
aku ADA, Rectoverso -Dee-
Melukiskanmu saat senja
Memanggil namamu ke ujung dunia
Tiada yang lebih pilu
Tiada yang menjawabku selain hatiku
Dan ombak berderu
Di pantai ini kau slalu sendiri
Tak ada jejakku di sisimu
Namun saat ku tiba
Suaraku memanggilmu..akulah lautan
Ke mana kau s'lalu pulang
Jingga di bahuku
Malam di depanku
Dan bulan siaga sinari langkahku
Ku terus berjalan
Ku terus melangkah
Kuingin kutahu..engkau ada
Memandangimu saat senja
Berjalan di batas dua dunia
Tiada yang lebih indah
Tiada yang lebih rindu
Selain hatiku
Andai engkau tahu
Di pantai itu kau tampak sendiri
Tak ada jejakku di sisimu
Namun saat kau rasa
Pasir yang kau pijak pergi akulah lautan
Memeluk pantaimu erat
Jingga di bahumu
Malam di depanmu
Dan bulan siaga sinari langkahmu
Teruslah berjalan
Teruslah melangkah
Ku tahu kau tahu..
Aku ada
Selasa, 05 Februari 2013
Curhat untuk Sahabat, Rectoverso -Dee-
Sahabatku, usai tawa ini
Izinkan aku bercerita
Telah jauh, kumendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau disana
Telah jauh, kuterjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku disini
Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring....sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Izinkan aku bercerita
Telah jauh, kumendaki
Sesak udara di atas puncak khayalan
Jangan sampai kau disana
Telah jauh, kuterjatuh
Pedihnya luka di dasar jurang kecewa
Dan kini sampailah, aku disini
Yang cuma ingin diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring....sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik : “ Pandang aku, kau tak sendiri, oh,
dewiku….”
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang.....
Itu saja kuinginkan
Telah lama,kumenanti
Satu malam sunyi untuk kuakhiri
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji...
Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik : "Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku..."
"Wahai Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi"
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang.....
Itu saja kuinginkan
Telah lama,kumenanti
Satu malam sunyi untuk kuakhiri
Dan usai tangis ini, aku kan berjanji...
Untuk diam, duduk di tempatku
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring... sakit
Menentang malam, tanpa bimbang lagi
Demi satu dewi yang lelah bermimpi
Dan berbisik : "Selamat tidur, tak perlu bermimpi bersamaku..."
"Wahai Tuhan, jangan bilang lagi itu terlalu tinggi"
Selasa, 29 Januari 2013
Menepilah
Dari mercusuar ini aku terus memperhatikan suatu objek
Ah..apakah benar kamulah objek istimewanya?
Binar mata, rambut ombak tertiup riuhnya angin dan sekotak impian
Binar mata, rambut ombak tertiup riuhnya angin dan sekotak impian
Apa aku telah pikun?
Namun seingatku kamu tak sepenting ini dulu
Mana mungkin segalanya tertuju padamu
Hei..mari menepilah
Ada kerancuan yang harus kita bicarakan
Kamu pasti tau mengapa semua ini tercipta
Karena aku tak bisa mengingat kapan pertama kalinya aku melihat pelangi dari senyummu
Apa aku telah pikun?
Benar, aku memang telah pikun
Benar, aku memang telah pikun
Seorang pikun yang terlalu pandai menenun sebongkah ekspektasi
Kamis, 17 Januari 2013
*ticccck*
Teruntuk,
kamu.
Yang
sedang duduk tepat dihadapanku.
Hei!
Sibuk sekali kelihatannya.
Jangan
terlalu dipaksa, aku kurang suka melihat kernyit didahimu.
Awas kacamatamu melorot! nanti aku jadi bisa melihat wajahku dimatamu yang jernih itu.
Aku iri dengan buku tebal yang kau tatap terus - menerus.
Aku
iri dengan lembaran halaman yang kau isi dengan istilah-istilah yang agak sulit kumengerti.
Aku
iri dengan sandaran kursi yang membelai rambutmu, saat kau rebahkan kepala.
Aku
iri dengan gelas yang kau genggam sedemikian kuat untuk menghapus dahagamu.
*ticccck*
Kamu menjentikkan jarimu ke arahku yang membuat aku tersadar dari lamunanku
"hei, diminum dulu jus mangganya"
Langganan:
Postingan (Atom)
















