Minggu, 11 Oktober 2015

Nostalgia

Kerinduan ada kalanya datang tanpa diminta
Senyum tak terasa terkembang karena nostalgia

Ketika "Yahhh aku lupa bilang kalo nggak pakai bawang goreng" lalu disusul merengutnya bibir ini.
"Sini bawang gorengnya ke aku-in aja" sambil menyodorkan piringnya "bawang itu pencegah kanker loh, kamu kok malah nggak suka" lanjutnya

Atau "Tugasnya ini aja kan? Kerjain bareng yuk"

Atau "Hei jutek, malem ini mau aku nyanyiin lagu apa?"

Atau "Aku bikin desain band kesukaan kamu loh, mandi dulu sana nanti baru dilihat ya"

Atau "Nih sedotannya aku ambilin dua, satunya buat minum, satunya lagi buat kamu gigitin . Tapi jangan jadi kebiasaan ya, jorok"

Atau ketika wajah kita sedekat saat kamu memasangkan helm kepadaku, *klik* helm memang terpasang, tapi nafasku seperti terhenti sesaat

Memang, lelaki dalam kehidupanku tidak banyak, hanya 5 itu juga tidak sampai bertahun
Yang aku tau, mereka menjadikan aku yang hari ini

Rabu, 07 Oktober 2015

Selera Humor-Nya

"Gue kayak ngebuang emas" ujar seorang teman ditemani segelas es bertabur kiwi di sebuah resto "Lho? Kenapa?" "Dulu gue ngga yakin sama mantan, karna agamanya agak lemah & kurang dewasa, dia nurut banget sama gue"
"Lalu?" "Lalu gue berdoa, mintalah gue biar bisa jatuh cinta lagi pada yang agama kuat & lebih dewasa, tapi...
"Tapi?" "Jatuh cintalah gue dengan yg lebih dewasa, tapi cuek dan agamanya memang kuat, tapi ..." kata-katanya agak tersendat
".....tapi kita nggak seagama ay"

Temanku ngambek karena aku tertawa sejadi-jadinya, 
"Benar-benar humor semesta :) lain kali kalo mau doa yang spesifik dong lo" jawabku kegelian
"Minta yang agamanya kuat & seagama, minta yang dewasa & perhatian. Sebab kadang Allah dan selera humornya memang datang tanpa permisi"

Rabu, 23 September 2015

Masih tentang keikhlasan

Seperti kata seorang teman
"Untuk bisa ikhlas secara sempurna sebelumnya kita harus menanamkan mindset bahwa Allah selalu memiliki rencana terbaik"
Yaa !
Seorang teman lagi berkata
"Serahin semuanya sama Allah, jadi apapun hasilnya nggak ganggu lo"

Minggu, 13 September 2015

(Not) A Perfect Blend


Kau kembali untuk menengok, yang dulu kau sebut rumah
Smoga kau tak berniat untuk mengoyak isi di dalamnya
Kau sekarang berbeda, badanmu bertambah kurus, rambutmu dibiarkan memanjang

"Hei, apakah kamu masih menjadi pencandu kopi?"
"Ya, susah lepas, sebab kopi itu setia. kamu?
"Aku kenapa?
"Apakah kamu masih menjadi pecandu bau hujan?"
"Ya, sebab...."
"sebab, menciumi bau hujan, menenangkan"
"Aneh"
Kita pun tersenyum sekenanya

Aku bukan seperti kopi yang membuat kebergantungan
Aku dan kamu juga bukanlah kopi dan hujan
We are (not) a perfect blend

Senin, 07 September 2015

Surat untuk kakak part 2

Kak, akhirnya kita bisa sama-sama 'melepaskan'
Sesuatu yang nampaknya baik, merekat erat namun tidak akan bertambah indah
Mungkin kakak sudah lebih dulu melupakannya dan kembali kepada yang dahulu
Meniti kisah indah dari masa lalu untuk masa depan kelak
Sementara aku masih harus tetap berjuang
Berjuang meruncingkan senyum saat dia menyebut namanya



Selasa, 25 Agustus 2015

Bagaimana sanggup

Aku bodoh sekali pernah berkata 
"Sebaik-baiknya cinta adalah yang menyembuhkan luka lalu membalutnya dengan kegigihan bertahan"
Ternyata salah! kegigihanku, keegoanku malah membuat aku mati 
Benar teman ia, tak mampu menjadi kassa
Ia tetap menjadi duri dalam genggaman

Aku melepasnya
Aku tak akan lagi menghitung hari kepergiannya
Akupun telah mengencangkan tali sepatu
Aku tak mau mati sekali lagi

Hai sahabat cantikku, sekarang mari kita berbincang
Perbincangan mengenai hubungan LDRmu yang baru saja usai
Entahlah aku ini memang tak bersahabat dengan jarak
Pernah aku dengar ungkapan
"Distance means nothing as long as both of you still have each other"
okelah, tapi bagaimana perjuangannya untuk tetap saling memiliki?

Jujur, aku salut padamu
Bagaimana sanggup tak berkata sakars saat ia tak menghubungimu selama itu
Bagaimana sanggup tak berpikiran skeptis saat ia bahkan menghapusmu dari kontaknya
Bagaimana sanggup memaafkan laki-laki itu lagi dan lagi
Bagaimana sanggup menerimanya kembali dalam genggammu

Akupun lupa sudah berapa kali kamu menyudahi lalu memulai lagi dengannya
Namun, kali ini kamu benar-benar menyudahinya
Aku jahat sekali sahabatku, aku tertawa saat mendengar bahwa kalian sudah selesai
Hahaha ampuni akuuu !

Tebakanku, pasti kamu sudah sampai titik lelah ya? 
Lelah setelah berjuang sendirian memangkas jarak
Bukan jarak kilometer tentunya, tapi jarak hatimu dengannya
Yang ku tahu sekarang kamu berusaha merelakannya semua takdir padaNya
Itu lebih baik, akupun sedang melakukan hal yang sama

*Surat balasan untuk sahabatku, Ika . Dialog Sunyi " Ego "